penguatan identitas sosial dan pluralisme daerah perbatasan (Minangkabau-Batak-Melayu)

Februari 24, 2008 at 10:07 am (Tak Berkategori)

NAMA : ERPINA

BP         : 05 181 003

TUGAS : SISTEM SOSIAL

 

Penguatan Identitas Sosial dan Pluralisme di daerah perbatasan ( Segitiga Emas), Batak, Melayu, dan Minangkabau. Apakah didalamnya ada konflik ?

Konflik berasal dari kata Confligere, saling mengejutkan. Ini sejalan dengan interpretasi prilaku Anglo-American sebagai pihak-pihak yang saling mengejutkan, dengan kata lain kekerasan. Istilah itu juga terbuka untuk interpretasi sikap subjektif di dalam dunia dalam pihak-pihak sebagai kejutan dalam, rasa benci yang kemudian diungkapkan dalam kekerasan. Obatnya jelas menghentikan rasa benci itu yang akan menghentikan kekerasan.

Dalam pendekatan-pendekatan Anglo-American yang didominasi Orientasi B dua istilah yang berbeda, konflik dan kekerasan, digunakan untuk konsep yang sama, prilaku kekerasan. Konflik kekerasan terdengar, tetapi ini kombinasi dua kata yang bertentangan satu sama lain tanpa konflik yang jelas. Kekerasan adalah prilaku, nyata, dapat diamati. Jika konflik sama dengan kekerasan maka konflik dibingkai diantara pecahnya kekerasan dan gencatan senjata.

Kekerasan hars dikontrol untuk memuluihkan ketertiban dan keamanan. Salah satu cara, yaitu dengan kerahkan marinir. Ada pula yang mengidentifikasikan faktor-faktor penyebab tidak hanya dampak, kondisi, tidak hanya konsekuensi, seperti musim, iklim, korelasi luar prilaku kekerasan, kecuali realitas-dalam. Karena mengandalkan behaviourism,[1] tidak mengindahkan hal-hal subjektif dan definisi dalam realitas, telah menhasilkan 3 kesalahan besar. Pertama, bagian luar, pendekatan behaviourism dari sisi luar itu  demikian bertolak belakang dengan pengalaman subjektif, yang dijalani, mengenai apa konflik itu sebenarnmya sehingga timbul perasaan telah dilucuti dari kemanusiaan.

Kedua, bila melihat diri sendiri, penganut behaviourismmemasukkan realitas dalam yang penuh sikap yang baik, sedangkan orang lain mereka lihat sebagai kelas berbahaya, ras-ras, bangsa-bangsa, negara-negara dengan prilaku kekersaan dalam asimetri kelas, rasis, nasionalis, patriotik.

Ketiga, dengan melakukan itu satu pendekatan dasar pada kontreol kekerasan hilang, dengan mengatasi konflik yang melandasi, obyektifm, melalui renungan dalam, sunyektif, sebelum kekersan pecah.

Bagaimana dengan Republik Indonesia ? jika membangun negara berarti kesatuan politik, ekonomi, militer, dan budaya, jelas ada masalah. Ini bukan analisis hanya sebuah daftar saja :

  1. Dari sisi politik, ada banyak gerakan untuk otonomi, bahkan kemerdekaan.
  2. Dari sisi ekonomi, ada ketimpangan dan ketimpangan nasional yang luar biasa besar.
  3. Dari sisi budaya, ada ketegangan intra Islam dan Islam-Kristen.
  4. Dari sisi militer, militer membunuh rakyatnya sendiri karena Timor-Timur, Aceh dan banyak lagi tempat lain adalah contoh-contoh yang menyedihkan.

Dalam konflik Di Timor-Timur perana ketimpangan kesejahteraan agak jelas. Sebagai bagian dari sistem politik dan ekonomi Indonesia, Timor-Timur adalah provinsi yang serba kekurangan, krisis keuangan Asia menjelang akhir tahun 1990-an menerjang Timor-Timur jauh lebih keras dibandingkan provinsi-provinsi lain Di Indonesia.

Di Aceh, Klimantan Barat, Irian Jaya atau Papua, kepulauan Maluku dan Riau, tuntutan yang meningkat untuk otonomi dan konflki kekersan tidak dapat dilihat semata-mata sebagai reaksi pada ketimpangan kesejahteraan. Sejak krisis menurunya daya beli pegawai negeri dan perwira tentara nasional Indonesia, ada godaan yang makin besar untuk menggunakan jabatan masing-masing untuk menambah penghasilan guna menutup kekurangan daya beli.

Konflik lebih bahyak menyangkut keserakahan daripada rasa tidak puas, pihak-pihak yang terlibat konflik lebih sering mengejar keuntungan ekonomi yang timbul dari situasi perekonomian yang kacau daripada memperbaiki status kelompoknya yang hidup kekurangan.[2]

Di Indonesia, semua wilayah yang sedang menhadapi separatisme (Aceh, Papua, Ria dan Maluku ) kaya sumber daya alam. Dari semua indikator provinsi, jumlah penanaman modal asing langsung perkapita memiliki satu dari korelasi tertinggi dengan perang atau potensi untuk perang. Dalam hal Papua, tokoh-tokoh utama dalam perjuangan kemerdekaan adalah orang-orang yang mengharapkan akan mendapat kekuasaan saat Belanda meninggalkan  Papua Barat.

Ada bukti yang menunjukan bashwa keberagaman suku berkaitan dengan potensi konflik yang lebih besar.[3] Jumlah suku menjelaskan seperlima dari perbedaan yang ditemukan diantara semua negara yang dilanda kekerasan dahsyat seperti perang gerilya dan perang saudara. Keberagaman suku ini juga sudah ,menjadi penjelasan resmi bagi kekerasan di Indonesia. Namun, kesimpulan ini didasarkan pada konflik dari 1932-1982, data yang lebih baru cenderung menujukkan bahwa perlu ditambahkan beberapa catatan pada kesimpulan ini.

Situasi yang paling mudah memicu konflik adalah saat 2 kelompok suku utama bersaing untuk memperoleh kekuasaan. [4] masyarakat yang terdiri dari banyak suku yang sama-sama kuat cenderung sama seperrti halnya masyarakat bersuku tunggal, tidak mudah melancarkan perang. Juga di Kalimantan Barat dan Tengah, transmigran Madura sering dipandang sebagai pihak yang memasukji wilayah itu dengan negara sebagai pendampig mereka. Pada waktu bersamaan, suku melayu dan suku Dayak mersa mereka berhak memegang ekonomi dan politik karena kelompok mayoritas dean putra daerah.

Dalam praktik, prioritas dalam pencegahan konflik tidak sama dengan prioritas dalam pemberantasan kemiskinan. Pertama dari titik pandang pencegahan konflik, lebih penting untuk mencegah ketimpangan ekonomi dan kelompok-kelompok rajyat dari pada memusatkan perhatian pada mnasalah-masalah absolut kelompok termiskin. Kedua, dari perspektif yang sama, lebih penting utuk mengatasi keluhan-kreluhan kelompok yang memungkinkan besar akan mebngambil jalan mobilisasi kekerasan daripada kelompok termiskin.

Orang Indonesia takut dengan pendekatan konflik, karena konflik diasosiasikan sebagai sesuatu yang secara normatif tidak baik yang harus dihindarkan. Sebagai metoda ilmu, pendekatan konflik sifatnya adalah netral, apa adanya. Pendekatan yang lebih netral adalah pendekatan yang struktural-fungsional, yang lebih biasa kita pakai. Tetapi pendekatan struktural-fungsional semata tidak cukup untuk membantu kita untuk bisa mendapatkan gambaran kpmratif dalam ruang lingkup sosial budaya yang lebih luas, dimana yang bermain tidak hanya satu sistem sosial budaya saja tetapi berbagai yang ditemnukan di Indonesia yang budaya, bahsa dan agamanya sangat beragam dan pluralistik.

Sementara sistem budaya Jawa, yang sintetik, yang satu lagi contohnya secara excellence pula dengan budaya Melayu Minagkabau, walau juga merupakan perpaduan dari berbagai unsur budaya, tetapi proses berjalanya secra sintetik dalam arti yang terjadi adalah prosesw persenyawaan budaya dimana yang sejalan melebur menjadi satu, sementara yang tak sejalan, disingkirkan. Orang Minag-dan juga orang Melayu umumnya karena proses perpaduan secara sintetik itu, adalah orang Islam. Secara kultural ia bukan lagi orang Minang ataupun orang Melayu dia menukar agamnay dengan yang bukan Islam.

Dunia Melayu (“The Malay World,”Belanda: “Maleische Wereld”) merupakan suatu istilah yang sudah lama digunakan dalam literatur untuk menfacu kepada kawasan yang lebih luas dari Nusantara, bahkan hampir meliputi sebagian besar kawasan Asia Tenggara dewasa ini.

Dari segi manusiannya, orang Melayu termasuk ras Melayu Polinesia, yaitu pecahan dari kelompok ras mongoloid yang berkulit kuning tersebar di utara, sedang ras Melayu Polinesia di Selatan jadinya berwarna sawo-matang. Gelombang kedatangan mereka dari utara ke nusantara, menurut para ahli berlangsung dalam dua tahap, yaitu Melayu tua (Proto Melayu) sekitar 3000-500 tahun SM, dan Melayu Muda (Deutro Melayu) sekitar tahun 500 SM dan sesudahnya. Namun itu  bukan berarti sebelum kedatangan migran dari lintang utara itu ke Nusantara belum ada populasinya. Mereka adalah Ras Negrito.[5]

Keberagaman budaya dalam ras Melayu Polinesia yang berbahasa Austronesia itu disebabkan anatara lain :

  1. Adanya proses ekspasi adaptasi lingkungan (fisik dan sosial) yang berjalan lambat laun sehingga membentuk populasi etnolinguistik.
  2. Hubungan antar kelompok menjadi semakin memecah menjadi sub etnik.
  3. Pengaruh-pengaruh peradaban dari luar dari waktu ke waktiu.

Rumpun Dunia Melayu sebenarnya sudah terbentuk sejak zaman prasejarah. Meskipun mereka kini cenderung memiliki jati diri atau odentik ras etnik yang berbeda-beda sesuai dengan warna lokal masing-masing, namun secara etnik jika dimaksudkan dengan istilah itu adanya kesamaan asal-usul dan budaya mereka masayarakat Melayu memiliki banyak kesamaan jati diri yang telah terbentuk sejak berabad-abad.

Orang Melayu adalah kelompok etnik yang memiliki ciri-ciri etnik Melayu. Ciri-ciri itu bisa digali dan dibangkitkan sebagai tenagan sosial dan ekonomi yang dahsyat dalam menjawab tantangan zaman. Bertolak dari ciri-ciri umum, penelusuran terhadap aspek-aspek berikut agaknya bisa menjadi dasar kerja sama dalam mengembangkan potensi dunia Melayu di masa datang, seperti ilmu pengetahuan, bahasa, organissai sosial, ekonomi dan sistem mata pencaharian hidup, tradisi religi dan kesenian atau pariwisata.

Disini yang kita maksud sebagai negeri-negeri Melayu atau boleh juga dikatakan pulau-pulau Melayu, ialah sejak dari Semenajung Tanah Melayu, turun ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau Nusatenggara. Pulau-pulau Maluku termasuk Irian, dan naik terus ke pulau-pulau Luzon dan Mindanao yang disebut Pilipina di waktu sekarang.

Dunia Melayu adalah Alam Melayu dengan kebudayaan Melayu yang memilki sejumlah ciri-ciri umum, disamping ciri spesifik lokal yang terbentuk lewat proses sejarah yang panjang dan dapat dipastikan akan terus berkembang dimasa depan. Tekana-tekanan globalisasi yang identik dengan kapitalisme dipersenjatai dengan power yang tak tertandingi  yaitu Iptek. Dalam hubungan ini Alam Melayu tidak ada jalan lain kecuali dengan berbenah diri, dimana energi sosial dan kultural masyarakat Alam Melayu bisa menjadi benteng yang penting dalam rangka memperkuat dirinya, baik kedalam maupun keluar.

Nenek moyang orang Melayu berasal dari Semenajung Malaya.[6]  Sebenarnya mereka bersaal dari para petualang Pulau Sumatera dan menetap di Semenanjung pada abad ke-12. Daerah asli orang Melayu adalah kerajaan Palembang DI Sungai Melayu. Ada juga berpendapat bahwa orang Melayu berasal dari kerajaan Minagkabau. Buktinya terdapat dalan dua buku bahasa Melayu yakni Tajussalatin (Mahkota Segala Raja-raja), dan Sulalat as Salatin (Penurunan Segala Raja-Raja)

Bahasa Melayu dulunya adalah bahasa masayarakat pasar alaias bahasa rendah dan egaliter. Ketika bahasa itu dujadikan sebagai Bahasa Indonesia yang dijunjung dalan Sumpah Pemuda 1928, tidak menimbulkan resistensi dari etnis manapun, karena sudah menjadi bagian dari bahasa keseharian mereka. Artinya dari segi bahasa Melayu saja, masing-masing etnik memberikan sumbangan. Etnis melayu pengertianya lebih kepada penduduk yang mengidentikkan diri sebagai bukan dari etnik Bugis, Minag, Madura, atau tribalisme lainnya yang heranya kini seolah-olah identik dengan daerah atau pulau tertentu (Madura dengan pulau Madura, Bugis dengan Sulawesi Selatan).

 

ETNIS MELAYU, ISLAM DAN NASIONALISME

 

Pembaharuan Islam yang dipelopori orang Melayu telah membangkitkan semangat dan kesadran diantara mereka, baik di Malaysia maupun di Indonesia. Pembaharuan yang ditampilkan oleh modernis merupakan inti dari konflik antara pihak pembaharuan dengan penguasa (pemerintah jajahan). Kelompok Islam Melayu tidak hanya berusaha untuk memurnikan Islam dari pengaruh bid’ah, tetapi juga semakin menonjolkan pertentangan antara tujuan nasional dan tujuan Islam. Bagi mereka tujuan hidup diselaraskan dengan Islam dan hanya Islam semata. Mereka menolak nasionalisme sebagai ideologi sekuler dan harus dihilangkan. Pertentangan antara kaum nasionalisme dan universalisme Islam terungkap dala proses politik Melayu, seperri perbedaan perspektif yang terjadi antara UMNO (United Malay Nationalist Organization) dan PAS atau PMIP (Pan Malaysian Islamic Party) di Malaysia. Penonjolan identitas budaya melayu yang mengagungkan bangsa tidak cocok dengan prinsip-prinsip Islam.

Kaum Nasionalisme Melayu tetap mempertahankan prinsip nasionalisme, baik sebagai kelayakan politik maupun sebagai keyakinan pribadi. Kaum Melayu sering mengeidentifikasikan diri mereka sendiri debgan bangsa, maka usaha untuk menghapuskan nasionalisme dinilai mereka sebagai penyerangan terhadap pemeliharaan kebudayaan Melayu dan Malaysia. Hal ii akan mengancam kebulatan kebudayaan Melayu.

Gerakan reformasi atau pembaharuan Islam Melayu Di Indonesia tidak lepas dari peranan orang melayu yang belajar di Timur Tengah dan mereka yang naik haji ke Mekkkah. Selain itu di Indonesia banyak bermunculan organissai keislaman yang bersifat modern, seperti Muhammmadiyah, Serikat Islam, dan sebagainya.

Jadi, pluralisme masayarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda, menurut Furnivall, adalah merupakan suatu masayarakat majemuk (plural soscieties), yakni suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpoa ada pembauran satu sama lain didalam suatu kesatuan politik. Sebagai masayarakat majemuk, masayrakat Indonesia disebut sevbagai suatu tipe masayarakt yang daerah tropis Indonesia dimana mereka yang berkuasa dan mereka yang dikuasai memiliki perbedaan ras. Orang-orang Belanda sebagai golongan minoritas, jumlahnya semakin bertambah terutama pada ahkir abad ke-19, sekaligus adalah penguasa yang memerintah bagian amat besar orang-orang Indonesia pribumu yang menjadi warga negara kelas tiga dinegerinya sendiri. Golongan orang-orang Tinonghoa sebagai golongan terbesar diantara orang-orang trimur Asing lainnya, menempati kedudukan menengah diantara kedua golongan tersebut diatas.

Perbedaan suku-bangsa, perbedaan agama, adat dan kedaerahan seringkali disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk, suatu istilah yang mula-mula sekali diperkenalkan Furnivall untuk mengambarkan masayarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda. Konsep masyarakat majemuk sebagaimana yang banyak dipergunakan oleh ahli-ahli ilmu kemasayarakatan dewasa ini memang merupakan perluasan dari konsep Furnivall.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Dewi Fortuna, dkk. Konflik Kekerasan Di Asia Pasifik. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2004.

Naim, Mochtar, dkk. Menelusuri Jejak Melayu-Minagkabau. Jakarta : Yayasan  Citra Budaya Indonesia, 2002.

Hamka. Sejarah Umat Islam Di Indonesia. Jakarta, 1961.

Dr. Nasikun. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta : Pt. Raja Grafindo Persada, 2003.

Http ; www. Sinar harapan. Co.id.Berita  02/06/07 Opini 02.hlm.

 



[1].  Memusatkan perhatian pada bagian luar manusia, manusia dilihat sebagai kawanan binatang, kawanan ikan, mobil-mobil dalam penelitian lalu lintas, kadang-kadang mengejutkan dalam kekerasan.

[2] . Konfilk menurut Paul Collier dan Anke Hoeffler (1998).

[3] . Menurut Rummel (1997).

[4] . Menurut Collier dan Hoeffler (1998).

[5] . Hasil dari proses evolusi dari genersai pertama homosapiens yang ditemukan di Jawa dan sisa-sisanya menyebar ke timur dan sampai ke Aboringi di Australia.

[6] . Menurut Thomas Stamford Raffles, asal-usul orang Melayu tidak terlepas dari unsure mitos, yakni keturunan salah satu dewa yang dating dari laut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: