mangalua suatu bentuk perkawinan pada masyarakat Batak Toba

Maret 17, 2008 at 3:29 am (Tak Berkategori)

MANGALUA SUATU BENTUK PERKAWINAN

PADA MASYARAKAT BATAK TOBA

Perkawinan merupakan suatu bentuk ikatan antara dua orang yang berlainan jenis kelamin, atau antara seorang pria dan seorang wanita di mana mereka mengikatkan diri untuk bersatu dalam kehidupan bersama. Proses ini melalui ketentuan yang terdapat dalam masyarakat laki-laki yang telah mengikatkan diri dengan seorang wanita setelah melaui prosedur yang ditentukan dinamakan suami dan wanita selanjutnya disebut sebagai istri.

Mangalua adalah kawin lari.[1] Secara bebas, manga adalah melaksanakan dan lua adalah membawa atau lari. Secara leksikal berarti melaksanakan kegiatan membawa lari atau melarikan. Secara konseptual berati sepasang muda-mudi yang kawin dengan cara di luar prosedur perkawinan ideal karena satu atau beberapa hal, seperti karena masalah ekonomi( masalah pembayar sinamot yang kurang), masalah social (perbedaan status ditengah kehidupan masayarakat) ataupun masalah yang lainnya.

Dalam hal ini berarti kawin tanpa melalui prosedur pembayaran sinamot trlebih dahulu.[2] Dalam mangalua ini seakan adapt adalah soal belakang, yang penting adalah mereka kawin dulu.

Adat menyebut perkawinan mngalua ini bahwa si pemuda mengandalkan kekuatan, mengabaikan hukum (pajojo gogo), papudi uhum. Biasanya si perempuan tidak akan mau berlama-lama dalam situasi mangalua ini ( dalam situasi belum diadatkan atau mangadati), karena perkawinan ini belum kuat adanya, sehinga kalaupun dia diceraikan tidak akan ada pihak yang dapat mempertahankanya atau menanggungjawabinya.

BENTUK PELAKSANAAN MANGALUA

Dalam pelaksanaan mangalua ini ada dua cara yang dikenal yaitu:

  1. Kedua calon pengantin yang mangalua atau ditemani oleh satu atau dua orang yang bertindak sebagai pihak ketiga, demi menjaga kehormatan kedua calaon pengantin.

Sebagai langkah pertama mereka pegi kerumah salah satu keluaraga pengetua atau terpercaya, dan dirumah tersebut calon pengantin perempuan dititipkan. Berikutnya laporan kepada orangtua, pengetua adapt atau pemimpin agama minta pemberkataan atau restu.

  1. Perempuan itu langsung dibawa oleh si pria kerumahnya tanpa lebih dulu diberkati atau direstui. Perkawinan seperti ini disebut juga marbagas roha-roha (berumah tangga sesuka hati). Namun perkawinan telah terjadi, kewajiban atau pertanggungjawaban adat wajib dilaksanakan di kemudian hari.

TATA CARA MANGALUA

Dalam perkawinan mangalua ini tentu ada cara yang lazim dilakukan oleh pelaku-pelakunya. Sepasang muda-mudi memutuskan untuk melaksanakan kawin lari ketika mereka berpacaran karena melihat berbagai hal yang akan menghambat mereka untu kadapt hidup bersama. Yang sering terjadi bahwa keluarga si lelaki yang memegang peranan dalam pelaksanaan mangalua ini, sedangkan pihak perempuan tidak tahu sama sekali. Ada juga kasus mangalua dimana kedua belah pihak keluarga mengetahui dan memberi ijin untuk melkasnakan hal tersebut, karena memang cara itulah yang dianggap tepat pada saat itu agar perkawinan tetap bisa dilaksanakan.

Dalam mangalua ini si perempuan pergi meninggalkan oranng tuanya, mengikuti kekasihnya untuk melaksanakan perkawinan. Biasanya siperempuan langsung dibawa kerumah pemuka agama yang berda di lingkungan tempat tinggal keluarga pihak laki-laki. Tetapi ada juga terjadi dimana pasangan itu lari meninggalkan orang tuanya masing-masing dan pergi kesuatu tempat lain apabila keluarga kedua belah pihak betul-betul tidak ada yang setuju. Sesudah sekian lama berumah tangga mereka akan kembali untuk meminta maaf dan melaksanakan adat perkawinan secara penuh.

Dahulu kala bila seorang perempuan akan mangalua, maka sebagai tandanya dia kaan meletakkkan daun sirih di dalam lemari pakaianya., sebagai pengganti dirinya yang hilang atau yang telah pergi. Sekarang hal tersebut telah digantikan dengan meninggalkan sepucuk surat sehingga keluarga perempuan dapat mengetahui bahwa anak gadisnya telah mangalua.

Setelah mereka mangalua dan menetap di suatu tempat, maka adat menuntut agar prosedur selanjutnya dilaksanakan, yakni segera setelah kawin dating kerumah orangtua si perempuan untuk memberitahukan bahwa anak mereka telah menjadi paniaran (menjadi salah satu keluarga mereka), dimana kegiatan ini disebut manurohan bao-bao na tinangko (melapor dan membawa tanda anak mereka telah diambil).

Setelah semua undangan pihak perempuan hadir maka dipersiapkan makanan yang dibawa oleh romnbongan pihak lelaki (paranak) tadi, dan mereka semua makan bersama-sama. Setelah selesai maka acara selanjutnya adalah manghatai atau bercakap-cakap mengenai maksud kedatangan mereka.

Pembicaraan ini dimulai oleh pihak keluarga pihak perempaun yang diwakili oleh abang si perempuan yang telah berkeluarga. Isi pembicaran mereka adalah ucapan terimakasih kepada pihak keluarag laki-laki (paranak). Kemudian abang dari ayah si perempuan juga berbicara mengucapkan terimakasih atas kesediaan para tamu untuk dating ke acara tersebut dan menayakan maksud kedatangan mereka. Perlu kita krtahui bahwa adapt Batak ada sautu kebiasaan, walaupun mereka sebenarnya sudah tahu tujuan kedatangan suatu kelompok, tetapi mereka akan menayakan serinci mungkin melaui kata-kata yang berupa pantun-pantun dan pepatah-pepatah. Seperti dikatakan :

Sai marangkup do na uli, mardongan do na denggan.

On pe di paboa ampara niba ma tangkas siangkupna.

Songon na handul, sidongannna songon na mardalan.

Secara bebas artinya mennyakan apakah maksud kedatangan mereka atau pihak paranak atau lelaki tersebut. Biasanya pembicaran iotu diwakili oleh abang dari ayah si perempuan. Tetapi sebelum pehak paranak menjawab, terlebih dahulu diberi kesempatan kepada dongan sahuta.[3] Teman sekampung atau dongan sahuta ini secara adapt menuntut anatara lain :

1. Upa sangke hujur (upah pengawal kampong, agar kemarahan atau sikap bermusuhan dihentukan terhadap si lelaki yang melahirkan gadis kampung mereka).

2. Upa ungkap harbangan (upah untuk para penjaga pintu gerbang kampong. Penghormatan diberikan kepada merteka, agar si pria tersebut diijinkan masuk ke komplek kampong tersebut).

3. Upa raja huta (upah untuk ketua kampong yang bertannggungjawab atas keamanan atau masalah-masalah lainnya dari seluruh penduduk huta atau kampong tersebut).

Dengan dipenuhinya syarat-syarat tersebut diatas, maka pembicaraan kepada mertua baru bisa dimulai. Sudah menjadi ketentuan adat, bahwa suami istri yang kawin lari tidak diperkenankan berkunjung kerumah orang tuan si perempuan sebelum acara manuruk-nuruk ini.

Setelah dengan sahuta menerima upah akan dilanjutkan dengan pembicaraan oleh paranak yang menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh keluarga parboru dengan nada menyembah (dalam hal ini tentu pihak parboru tersebut adalah huta-huta mereka, dimana dalam adapt Batak kelompok ini merupakan kelompok yang harus selalu disembah dan dihormati. Kedatangan mereka dalam acara manuruk-nuruk ini bermaksud untuk menyembah atau minta maaf kepada pihak paranak telah bersalah mengambil anak perempuan pihak paranak tanpa izin. Dengan nada menyesal pihak paranak akan mengatakan :

Ndang tarbahen be turak, si nungga sor gok tagan.

Ndang tarbahen be turak, si nungga sor sun mardalan.

Artinya memang mereka merasa bersalah tetapi apalah daya hal tersebut telah terjadi.selanjtnya pihak parboru akan membalas perkataan mereka itu. Pertama dikomentari masalah makanan yang dibawa oleh paranak tadi, yang telah dimakan bersama-sama, ketika selesai makan memang dikatakan oleh parboru bahwa makanan yang dibawa paranak tersebut enak sekali rasanya, tetapi pada pembicaraan berikutnya dikatakanalah bahwa makanan itu sebenarnya pahit sekjali rasanya. Hal ini karena pihak paranak mereka anggap telah pajolo gogo, papudi uhum (mengandalkan kekuatan atau membelakangkan hukum). Mereka menanyakan pihak paranak sampai hati berbuat itu kepada meteka. Karena pada dasrnya perkawinan dengan cara mangalua ini sebisa-bisanya dihindari oleh orang Batak karena menimbulkan kesan yang kurang baik dari berbagai pihak.

Kalau perkawinan menurut ideal, hal yang harusnya dipenuhi terlebih dahulu sebelum perkawinan adalah membayar sinamot, tetapi setelah terjadi mangalua dalam acara manuruk-nuruk yang dibicarakan adalah somba-somba.[4] Apabila keadaan sudah mengijinkan baik dalam soal materi, waktu dan sebagainya, maka ditempuh acara memenuhi adat lengkap yang dinamai mengadati.[5] Dalam hal ini ada dua kemungkinan yang perlu diperhatikan yaitu :

1. Apabila keluarga yang diadati belum mempunyai anak dikatakan bahwa upacara mengadati itu bertujuan untuk : manggohi adat uhum, songgon dalan manomba hula-hula huhut mangido pasu-pasu.[6]

2. Bila keluarga yang diadati sudah mempunyai anak, maka dalam hal ini upacara dimaksudkan untuk : pasahathon sulang-sulangna tabo, dalan manggphi adat dohot uhum, manomba hula-hula huhut mangido pasu-pasu[7].

Hal lain yang menbedakan adalah setelah terjadi mangalua pihak parboru tidak dapat lagi menentukan besarnya sinamot yang harus diserahkan pihak paranak. Berapapun yang diberikan oleh pihak paranak pihak parboru terpaksa menerima karena anak perempuan mereka telah berada di pihak lelaki atau paranak. Dan biasanya sinamot pada perkawinan mangalua ini lebih rendah dibandibngkan dengan jumlah sinamot pada perkawinan ideal. Dalam kedaan ini kita lihat bahwa bentuk perkawinan mangalua ini akan lebih sedikit memakan biaya apabila dibandingkan dengan perkawinan lazimnya. Karena ada proses yang tidak dilauinya, sehingga mengurangi aktifitas dan biaya untuk suatu perkawinan.

FAKTOR SUKU DAN AGAMA SEBAGAI PENYEBAB MANGALUA

Orang Batak Pada umunya kuat idealismenya dalam hal kesukuan dan keagamaan. Kitra dapat melihat bahwa dimanapun orang Batak berda selalu menjukkan ke batakanya. Hal itu dijelaskan dengan adanya konsep halak hita dan bukan halak hita.[8]

Memang dalam kemajuan dewasa ini sering kita dengar bahwa hal-hal kesukuan seperti itu lambat laun telah mulai dihilanhkan, dengan tidak begitu, membedakan kesukuan dan keagmaan dalam kehidupan bermasayarakat. Tetapi kenyataanya kita lihat dalam masayarakat batak masaalh ini sering menghalangi seseorng menuju jenjang perkawinan dan factor ini melihatny dari kasus berikut ini.

 

FAKTOR PENDIDIKAN SEBAGAI PENYEBAB MANGALUA

Masalah pendidikan adalah tinggi rendahnya pendidikan yang telah diperoleh seseorng secara formal maupun non formal dalam membentuk sutru pemikiran yang lebih maju daripada orng-orng yng tidak menjalaninya.

Sering dikatakan bahwa dengan lebih tingginya pendidikan seseorng akan kurangya keinginan untuk melaksanaknan perkawinan dengan cara mangalua, Karena seseorng itu dianggap lebih maju memikirkan akibat-akibat negative dari mangalua tersebut. Memeng hal itu dapat kita terima, dengan adanya pemikiran yasng lebih jeli sebelum melaksanakanya.

FAKTOR EKONOMI SEBAGAI PENYEBAB MANGALUA

Faktor ekonomi dikatakan merupakan salah satu penyebab dilaksanaknanya mangalua. Hal ini dihubungkan dengan mata pencaharian, serta jumlah anggota kelurga dalam suatu rumah tangga, sehingga ada pengelompokkan kaya, menengah dan miskin. Hal ini dapat lihat dalam kasus berikut.

Dalam hal ini pihak keluarga laki-laki mempunyai taraf perekonomian yang lebih rendah dari keluarga perempuan, dimana jumlah qanggota keluarga juga turut bwerperan bagi unrtuk mangalua. Melihat dari jumlah anggota keluarga, pelaku mangalua tersebut minimal berjumlah 6 orang, bahkan ada yang anggota, bahkan ada yang anggota keluarganya sampai berjumlah 10 orang. Semakin banyak juumlah anggota keluarga dalam rumah tanggga maka semakin brat pula beban yang ditanggung oleh keluarga tersebut dalam kehidupan yang berlaku pada masyarakat batak toba semakin sulit oleh mereka yang tergolong rendah tingkat perekonomiannya, sebab perkawinan secara ideal itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk menghindari semua itu ditempuh cara mangalua.

AKIBAT-AKIBAT MANGALUA

Perkawinan dengan cara mangalua, ternyata telah menimbulkan banyak permasalahan baik itu bagi pelaku mangalua yang bersangkutan, dipihak perempuan, dipihak lelaki maupun di tengah-tengah masyarakat batak toba sendiri. Walaupun nanti akan ada upacara mangadati yaitu suatu proses upacara adat untuk mensahkan pasangan pelaku mangalua tersebut dalam perkawinan menurut adat tidak berarti langsung melenyapkan permasalahan ysng pernah ada.

Umunya keluarga pihak perempuan sangat menyasali tindakan mangalua ini, karena pihak laki-laki telah mengambil anak perempuan mereka tanpa ijin. Tindakan pihak laki-laki itiu diaggap telah mencorengkan arang di muka keluarga perempuan. Seharusnya sebagai hula-hula kedudukan mereka merupakan yang tertinggi dalam struktur dalihan na tolu dan harus dijunjung tinggi serta struktur dalihan na tolu harus dijunjung tinggi oleh pihak laki-laki.

Pada umumnya pihak laki-lakilah yang memegang peranan penting dalam pelaksanaan mangalua sebab si prempuan di bawa si lelaki ke rumah orang tua ataupun keluarga terdekatnya. Akibatnya mangalua ini bagi pihak laki-laki sebenarnya tidaklah menjadi permasalahan, karena pihak laki-laki ini secara tidak langsung ikut mengusulkan dan membantu terjadinya perkawinahn mangalua ini. Bila ditinjau dari segi ekonomi sebenarnya menguntungkan bagi pihak laki-laki sebab mereka tidak dibebani lagi dengan sejumlah sinamot yang diminta oleh keluarga perempuan.



[1] . Suatu alternative yang terpaksa oleh sepasang kekasih untuk melaksanakan perkawinan, karena jalan mereka menuju perkawinan menhghadapi berbagai hambatan.

[2] . Sinamot adalah sesuatu yang harus diserahkan oleh keluarga pihak laki-laki kepada pihak perempuan, baik berupa uang dan benda lain seperti tanah, ternak dan sebagainya.

[3] . Orang-orang kampong untuk memuaskan hati dimana mereka minta pembayaran kepada pihak paranak karena telah mengambil seorang perempuan dari lingkup mereka.

[4] . Sesuatu yang harus diserahkan oleh keluarga pihak lelaki kepada pihak perempuan, baik berupa uang dan benda seperti tanah, ternak dan lainnya atau bisa juga diartikan sama dengan sinamot.

[5] . Upacara peresmian secara adat, dimana kedua mempelai sebelumnya telah berumah tangga dengan cara mangalua.

[6] . Untuk memenuhi adapt dan hokum sebagai jalan menyembah hula-hula serta meminta berkatnya.

[7] . Menyampaikan penghormatan, memenuhi adapt dan hokum sebagai jalan menyembah hula-hula serta minta berkatnya.

[8] . Selalu dibedakan antara kelompok orang Batak dan bukan orang batak.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

penguatan identitas sosial dan pluralisme daerah perbatasan (Minangkabau-Batak-Melayu)

Februari 24, 2008 at 10:07 am (Tak Berkategori)

NAMA : ERPINA

BP         : 05 181 003

TUGAS : SISTEM SOSIAL

 

Penguatan Identitas Sosial dan Pluralisme di daerah perbatasan ( Segitiga Emas), Batak, Melayu, dan Minangkabau. Apakah didalamnya ada konflik ?

Konflik berasal dari kata Confligere, saling mengejutkan. Ini sejalan dengan interpretasi prilaku Anglo-American sebagai pihak-pihak yang saling mengejutkan, dengan kata lain kekerasan. Istilah itu juga terbuka untuk interpretasi sikap subjektif di dalam dunia dalam pihak-pihak sebagai kejutan dalam, rasa benci yang kemudian diungkapkan dalam kekerasan. Obatnya jelas menghentikan rasa benci itu yang akan menghentikan kekerasan.

Dalam pendekatan-pendekatan Anglo-American yang didominasi Orientasi B dua istilah yang berbeda, konflik dan kekerasan, digunakan untuk konsep yang sama, prilaku kekerasan. Konflik kekerasan terdengar, tetapi ini kombinasi dua kata yang bertentangan satu sama lain tanpa konflik yang jelas. Kekerasan adalah prilaku, nyata, dapat diamati. Jika konflik sama dengan kekerasan maka konflik dibingkai diantara pecahnya kekerasan dan gencatan senjata.

Kekerasan hars dikontrol untuk memuluihkan ketertiban dan keamanan. Salah satu cara, yaitu dengan kerahkan marinir. Ada pula yang mengidentifikasikan faktor-faktor penyebab tidak hanya dampak, kondisi, tidak hanya konsekuensi, seperti musim, iklim, korelasi luar prilaku kekerasan, kecuali realitas-dalam. Karena mengandalkan behaviourism,[1] tidak mengindahkan hal-hal subjektif dan definisi dalam realitas, telah menhasilkan 3 kesalahan besar. Pertama, bagian luar, pendekatan behaviourism dari sisi luar itu  demikian bertolak belakang dengan pengalaman subjektif, yang dijalani, mengenai apa konflik itu sebenarnmya sehingga timbul perasaan telah dilucuti dari kemanusiaan.

Kedua, bila melihat diri sendiri, penganut behaviourismmemasukkan realitas dalam yang penuh sikap yang baik, sedangkan orang lain mereka lihat sebagai kelas berbahaya, ras-ras, bangsa-bangsa, negara-negara dengan prilaku kekersaan dalam asimetri kelas, rasis, nasionalis, patriotik.

Ketiga, dengan melakukan itu satu pendekatan dasar pada kontreol kekerasan hilang, dengan mengatasi konflik yang melandasi, obyektifm, melalui renungan dalam, sunyektif, sebelum kekersan pecah.

Bagaimana dengan Republik Indonesia ? jika membangun negara berarti kesatuan politik, ekonomi, militer, dan budaya, jelas ada masalah. Ini bukan analisis hanya sebuah daftar saja :

  1. Dari sisi politik, ada banyak gerakan untuk otonomi, bahkan kemerdekaan.
  2. Dari sisi ekonomi, ada ketimpangan dan ketimpangan nasional yang luar biasa besar.
  3. Dari sisi budaya, ada ketegangan intra Islam dan Islam-Kristen.
  4. Dari sisi militer, militer membunuh rakyatnya sendiri karena Timor-Timur, Aceh dan banyak lagi tempat lain adalah contoh-contoh yang menyedihkan.

Dalam konflik Di Timor-Timur perana ketimpangan kesejahteraan agak jelas. Sebagai bagian dari sistem politik dan ekonomi Indonesia, Timor-Timur adalah provinsi yang serba kekurangan, krisis keuangan Asia menjelang akhir tahun 1990-an menerjang Timor-Timur jauh lebih keras dibandingkan provinsi-provinsi lain Di Indonesia.

Di Aceh, Klimantan Barat, Irian Jaya atau Papua, kepulauan Maluku dan Riau, tuntutan yang meningkat untuk otonomi dan konflki kekersan tidak dapat dilihat semata-mata sebagai reaksi pada ketimpangan kesejahteraan. Sejak krisis menurunya daya beli pegawai negeri dan perwira tentara nasional Indonesia, ada godaan yang makin besar untuk menggunakan jabatan masing-masing untuk menambah penghasilan guna menutup kekurangan daya beli.

Konflik lebih bahyak menyangkut keserakahan daripada rasa tidak puas, pihak-pihak yang terlibat konflik lebih sering mengejar keuntungan ekonomi yang timbul dari situasi perekonomian yang kacau daripada memperbaiki status kelompoknya yang hidup kekurangan.[2]

Di Indonesia, semua wilayah yang sedang menhadapi separatisme (Aceh, Papua, Ria dan Maluku ) kaya sumber daya alam. Dari semua indikator provinsi, jumlah penanaman modal asing langsung perkapita memiliki satu dari korelasi tertinggi dengan perang atau potensi untuk perang. Dalam hal Papua, tokoh-tokoh utama dalam perjuangan kemerdekaan adalah orang-orang yang mengharapkan akan mendapat kekuasaan saat Belanda meninggalkan  Papua Barat.

Ada bukti yang menunjukan bashwa keberagaman suku berkaitan dengan potensi konflik yang lebih besar.[3] Jumlah suku menjelaskan seperlima dari perbedaan yang ditemukan diantara semua negara yang dilanda kekerasan dahsyat seperti perang gerilya dan perang saudara. Keberagaman suku ini juga sudah ,menjadi penjelasan resmi bagi kekerasan di Indonesia. Namun, kesimpulan ini didasarkan pada konflik dari 1932-1982, data yang lebih baru cenderung menujukkan bahwa perlu ditambahkan beberapa catatan pada kesimpulan ini.

Situasi yang paling mudah memicu konflik adalah saat 2 kelompok suku utama bersaing untuk memperoleh kekuasaan. [4] masyarakat yang terdiri dari banyak suku yang sama-sama kuat cenderung sama seperrti halnya masyarakat bersuku tunggal, tidak mudah melancarkan perang. Juga di Kalimantan Barat dan Tengah, transmigran Madura sering dipandang sebagai pihak yang memasukji wilayah itu dengan negara sebagai pendampig mereka. Pada waktu bersamaan, suku melayu dan suku Dayak mersa mereka berhak memegang ekonomi dan politik karena kelompok mayoritas dean putra daerah.

Dalam praktik, prioritas dalam pencegahan konflik tidak sama dengan prioritas dalam pemberantasan kemiskinan. Pertama dari titik pandang pencegahan konflik, lebih penting untuk mencegah ketimpangan ekonomi dan kelompok-kelompok rajyat dari pada memusatkan perhatian pada mnasalah-masalah absolut kelompok termiskin. Kedua, dari perspektif yang sama, lebih penting utuk mengatasi keluhan-kreluhan kelompok yang memungkinkan besar akan mebngambil jalan mobilisasi kekerasan daripada kelompok termiskin.

Orang Indonesia takut dengan pendekatan konflik, karena konflik diasosiasikan sebagai sesuatu yang secara normatif tidak baik yang harus dihindarkan. Sebagai metoda ilmu, pendekatan konflik sifatnya adalah netral, apa adanya. Pendekatan yang lebih netral adalah pendekatan yang struktural-fungsional, yang lebih biasa kita pakai. Tetapi pendekatan struktural-fungsional semata tidak cukup untuk membantu kita untuk bisa mendapatkan gambaran kpmratif dalam ruang lingkup sosial budaya yang lebih luas, dimana yang bermain tidak hanya satu sistem sosial budaya saja tetapi berbagai yang ditemnukan di Indonesia yang budaya, bahsa dan agamanya sangat beragam dan pluralistik.

Sementara sistem budaya Jawa, yang sintetik, yang satu lagi contohnya secara excellence pula dengan budaya Melayu Minagkabau, walau juga merupakan perpaduan dari berbagai unsur budaya, tetapi proses berjalanya secra sintetik dalam arti yang terjadi adalah prosesw persenyawaan budaya dimana yang sejalan melebur menjadi satu, sementara yang tak sejalan, disingkirkan. Orang Minag-dan juga orang Melayu umumnya karena proses perpaduan secara sintetik itu, adalah orang Islam. Secara kultural ia bukan lagi orang Minang ataupun orang Melayu dia menukar agamnay dengan yang bukan Islam.

Dunia Melayu (“The Malay World,”Belanda: “Maleische Wereld”) merupakan suatu istilah yang sudah lama digunakan dalam literatur untuk menfacu kepada kawasan yang lebih luas dari Nusantara, bahkan hampir meliputi sebagian besar kawasan Asia Tenggara dewasa ini.

Dari segi manusiannya, orang Melayu termasuk ras Melayu Polinesia, yaitu pecahan dari kelompok ras mongoloid yang berkulit kuning tersebar di utara, sedang ras Melayu Polinesia di Selatan jadinya berwarna sawo-matang. Gelombang kedatangan mereka dari utara ke nusantara, menurut para ahli berlangsung dalam dua tahap, yaitu Melayu tua (Proto Melayu) sekitar 3000-500 tahun SM, dan Melayu Muda (Deutro Melayu) sekitar tahun 500 SM dan sesudahnya. Namun itu  bukan berarti sebelum kedatangan migran dari lintang utara itu ke Nusantara belum ada populasinya. Mereka adalah Ras Negrito.[5]

Keberagaman budaya dalam ras Melayu Polinesia yang berbahasa Austronesia itu disebabkan anatara lain :

  1. Adanya proses ekspasi adaptasi lingkungan (fisik dan sosial) yang berjalan lambat laun sehingga membentuk populasi etnolinguistik.
  2. Hubungan antar kelompok menjadi semakin memecah menjadi sub etnik.
  3. Pengaruh-pengaruh peradaban dari luar dari waktu ke waktiu.

Rumpun Dunia Melayu sebenarnya sudah terbentuk sejak zaman prasejarah. Meskipun mereka kini cenderung memiliki jati diri atau odentik ras etnik yang berbeda-beda sesuai dengan warna lokal masing-masing, namun secara etnik jika dimaksudkan dengan istilah itu adanya kesamaan asal-usul dan budaya mereka masayarakat Melayu memiliki banyak kesamaan jati diri yang telah terbentuk sejak berabad-abad.

Orang Melayu adalah kelompok etnik yang memiliki ciri-ciri etnik Melayu. Ciri-ciri itu bisa digali dan dibangkitkan sebagai tenagan sosial dan ekonomi yang dahsyat dalam menjawab tantangan zaman. Bertolak dari ciri-ciri umum, penelusuran terhadap aspek-aspek berikut agaknya bisa menjadi dasar kerja sama dalam mengembangkan potensi dunia Melayu di masa datang, seperti ilmu pengetahuan, bahasa, organissai sosial, ekonomi dan sistem mata pencaharian hidup, tradisi religi dan kesenian atau pariwisata.

Disini yang kita maksud sebagai negeri-negeri Melayu atau boleh juga dikatakan pulau-pulau Melayu, ialah sejak dari Semenajung Tanah Melayu, turun ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau Nusatenggara. Pulau-pulau Maluku termasuk Irian, dan naik terus ke pulau-pulau Luzon dan Mindanao yang disebut Pilipina di waktu sekarang.

Dunia Melayu adalah Alam Melayu dengan kebudayaan Melayu yang memilki sejumlah ciri-ciri umum, disamping ciri spesifik lokal yang terbentuk lewat proses sejarah yang panjang dan dapat dipastikan akan terus berkembang dimasa depan. Tekana-tekanan globalisasi yang identik dengan kapitalisme dipersenjatai dengan power yang tak tertandingi  yaitu Iptek. Dalam hubungan ini Alam Melayu tidak ada jalan lain kecuali dengan berbenah diri, dimana energi sosial dan kultural masyarakat Alam Melayu bisa menjadi benteng yang penting dalam rangka memperkuat dirinya, baik kedalam maupun keluar.

Nenek moyang orang Melayu berasal dari Semenajung Malaya.[6]  Sebenarnya mereka bersaal dari para petualang Pulau Sumatera dan menetap di Semenanjung pada abad ke-12. Daerah asli orang Melayu adalah kerajaan Palembang DI Sungai Melayu. Ada juga berpendapat bahwa orang Melayu berasal dari kerajaan Minagkabau. Buktinya terdapat dalan dua buku bahasa Melayu yakni Tajussalatin (Mahkota Segala Raja-raja), dan Sulalat as Salatin (Penurunan Segala Raja-Raja)

Bahasa Melayu dulunya adalah bahasa masayarakat pasar alaias bahasa rendah dan egaliter. Ketika bahasa itu dujadikan sebagai Bahasa Indonesia yang dijunjung dalan Sumpah Pemuda 1928, tidak menimbulkan resistensi dari etnis manapun, karena sudah menjadi bagian dari bahasa keseharian mereka. Artinya dari segi bahasa Melayu saja, masing-masing etnik memberikan sumbangan. Etnis melayu pengertianya lebih kepada penduduk yang mengidentikkan diri sebagai bukan dari etnik Bugis, Minag, Madura, atau tribalisme lainnya yang heranya kini seolah-olah identik dengan daerah atau pulau tertentu (Madura dengan pulau Madura, Bugis dengan Sulawesi Selatan).

 

ETNIS MELAYU, ISLAM DAN NASIONALISME

 

Pembaharuan Islam yang dipelopori orang Melayu telah membangkitkan semangat dan kesadran diantara mereka, baik di Malaysia maupun di Indonesia. Pembaharuan yang ditampilkan oleh modernis merupakan inti dari konflik antara pihak pembaharuan dengan penguasa (pemerintah jajahan). Kelompok Islam Melayu tidak hanya berusaha untuk memurnikan Islam dari pengaruh bid’ah, tetapi juga semakin menonjolkan pertentangan antara tujuan nasional dan tujuan Islam. Bagi mereka tujuan hidup diselaraskan dengan Islam dan hanya Islam semata. Mereka menolak nasionalisme sebagai ideologi sekuler dan harus dihilangkan. Pertentangan antara kaum nasionalisme dan universalisme Islam terungkap dala proses politik Melayu, seperri perbedaan perspektif yang terjadi antara UMNO (United Malay Nationalist Organization) dan PAS atau PMIP (Pan Malaysian Islamic Party) di Malaysia. Penonjolan identitas budaya melayu yang mengagungkan bangsa tidak cocok dengan prinsip-prinsip Islam.

Kaum Nasionalisme Melayu tetap mempertahankan prinsip nasionalisme, baik sebagai kelayakan politik maupun sebagai keyakinan pribadi. Kaum Melayu sering mengeidentifikasikan diri mereka sendiri debgan bangsa, maka usaha untuk menghapuskan nasionalisme dinilai mereka sebagai penyerangan terhadap pemeliharaan kebudayaan Melayu dan Malaysia. Hal ii akan mengancam kebulatan kebudayaan Melayu.

Gerakan reformasi atau pembaharuan Islam Melayu Di Indonesia tidak lepas dari peranan orang melayu yang belajar di Timur Tengah dan mereka yang naik haji ke Mekkkah. Selain itu di Indonesia banyak bermunculan organissai keislaman yang bersifat modern, seperti Muhammmadiyah, Serikat Islam, dan sebagainya.

Jadi, pluralisme masayarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda, menurut Furnivall, adalah merupakan suatu masayarakat majemuk (plural soscieties), yakni suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpoa ada pembauran satu sama lain didalam suatu kesatuan politik. Sebagai masayarakat majemuk, masayrakat Indonesia disebut sevbagai suatu tipe masayarakt yang daerah tropis Indonesia dimana mereka yang berkuasa dan mereka yang dikuasai memiliki perbedaan ras. Orang-orang Belanda sebagai golongan minoritas, jumlahnya semakin bertambah terutama pada ahkir abad ke-19, sekaligus adalah penguasa yang memerintah bagian amat besar orang-orang Indonesia pribumu yang menjadi warga negara kelas tiga dinegerinya sendiri. Golongan orang-orang Tinonghoa sebagai golongan terbesar diantara orang-orang trimur Asing lainnya, menempati kedudukan menengah diantara kedua golongan tersebut diatas.

Perbedaan suku-bangsa, perbedaan agama, adat dan kedaerahan seringkali disebut sebagai ciri masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk, suatu istilah yang mula-mula sekali diperkenalkan Furnivall untuk mengambarkan masayarakat Indonesia pada masa Hindia-Belanda. Konsep masyarakat majemuk sebagaimana yang banyak dipergunakan oleh ahli-ahli ilmu kemasayarakatan dewasa ini memang merupakan perluasan dari konsep Furnivall.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar, Dewi Fortuna, dkk. Konflik Kekerasan Di Asia Pasifik. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2004.

Naim, Mochtar, dkk. Menelusuri Jejak Melayu-Minagkabau. Jakarta : Yayasan  Citra Budaya Indonesia, 2002.

Hamka. Sejarah Umat Islam Di Indonesia. Jakarta, 1961.

Dr. Nasikun. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta : Pt. Raja Grafindo Persada, 2003.

Http ; www. Sinar harapan. Co.id.Berita  02/06/07 Opini 02.hlm.

 



[1].  Memusatkan perhatian pada bagian luar manusia, manusia dilihat sebagai kawanan binatang, kawanan ikan, mobil-mobil dalam penelitian lalu lintas, kadang-kadang mengejutkan dalam kekerasan.

[2] . Konfilk menurut Paul Collier dan Anke Hoeffler (1998).

[3] . Menurut Rummel (1997).

[4] . Menurut Collier dan Hoeffler (1998).

[5] . Hasil dari proses evolusi dari genersai pertama homosapiens yang ditemukan di Jawa dan sisa-sisanya menyebar ke timur dan sampai ke Aboringi di Australia.

[6] . Menurut Thomas Stamford Raffles, asal-usul orang Melayu tidak terlepas dari unsure mitos, yakni keturunan salah satu dewa yang dating dari laut.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

class raport

Februari 24, 2008 at 9:29 am (Tak Berkategori)

Dalam pembahasan bapak tadi tentang pluralisme dan identitas sosial, saya tidak dapat menangkap arti dari pluralisme secara mendetail, tetapi yang bapak terangkan hanyalah arti singkat dari pliralisme, yaitu keberagaman atau kemajemukan. Yang mana sistem sosial tidak dapat dipisahkan dari sifat pluralisme,karena :

– kondisi geografisnya

-budaya

-agama

-globalisasi

Saya mempunyai permasalahan tentang defenisi pluralisme yang sebenarnya ?

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

faktor-faktor yang mempengaruhi sistem sosial

Februari 22, 2008 at 6:22 am (Tak Berkategori)

NAMA : ERPINA

BP         : 05 181 003

TUGAS : SISTEM SOSIAL

 

1. Perubahan Sosial adalah : Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola prilkunya di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Kingsley Davis mengatakan bahwa perubahan sosial adalah : Perubahan-perubahan yang terjadi pada struktur dan fungsi masayarakat. Atau Perubahan Sosial adalah : Variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima yang disebabkan oleh perubahan geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi serta adanya di fusi kebudayaan dan penemuan baru dalam masyarakat.[1]

Atau Perubahan Sosial adalah : perubahan yang terjadi pada unsur kebudayaan material dan immaterial.[2]

  1. Gerakan Sosial adalah : Gerakan sejumlah warga masayarakat dengan mengedepankan tuntutan atau protes terhadap pihak lain atau diasumsikan sebagai yang dominan yang didorong oleh keinginan untuk menentang pihak lain.

Gerakan Sosial secara harfiah adalah : kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka mendukung suatu tujuan sosial terutama dalam usaha merubah struktur maupun nilai sosial. Gerakan sosial (social movement) dapat juga berhaluan kanan dan secara ideologi berwatak reformatif.

Gerakan Sosial muncul pada abad ke-19 yaitu ditandai dengan munculnya sebuah revolusi di Inggris oleh buruh. Gerakan Sosial abad ke-20 adalah : Aksi bersama yang dilakukan secara terorganisir maupun tidak terorganisir. Gerakan Sosial ini mengarah kepada suatu kasus atau aksi masayarakat baik yang terorganisir maupun yang tidak teroraginisir.

Tujuan akhir dari Gerakan Sosial adalah : Melakukan perubahan dengan indikasi keberhasilan bisa dilakukan dalam jangka panjang dan jangka pendek

  1. Mobilitas Sosial adalah : Mobilitas yang dapat terjadi pada setiap sistem pelapisan sosial. Baik pelapisan sosial terbuka maupun pelapisan sosial tertutup. Mobilitas pada pelapisan Sosial terbuka akan lebih tinggi dibandigkan dengan pelapisan sosial tertutup.

Adanya Mobilitas Sosial akan menimbulkan bermacam-macam akibat atau konsekuensi seperti kemungkinan timbulnya konflik antar kelas, antar kelompok sosial, dan antar generasi, serta kemungkinan terjadinya penyesuaian kembali setelah konflik.

Masyarakat yang terbuka memberikan peluang bagi adanya mobilitas sosial, akan tetapi ada juga akibat tidak baiknya dan beban yang menyertai peluang untuk mobilitas ini. Karena pada waktu seseorang sedang bersaing dengan orang lain dalam memperebutkan status sosial yang tinggi, sering terjadi perasaan tertekan dan frustasi serta konflik batin, namun tidak memiliki kemampuan untuk bersaing akan timbulnya rasa frustasi pada orang tersebut.

Faktor yang mempengaruhi Mobilitas Sosial adalah :

A.     Perubahan kondisi sosial, struktur kelas dan kasta dalam masyarakat dapat berubah karena terjadi perubahan dari dalam maupun dari luar masyarakat itu sendiri, misalnya : kemajuan teknologi dapat membuka kemungkinan timbulnya mobilitas keatas atau perubahan ideologi dapat pula menyebabkan stratifikasi sosial yang baru.

B.     Ekspansi teritorial dan gerak penduduk. Ekspansi teritorial dan perpindahan penduduk yang begitu cepat merupakan bukti adanya fleksibilitas struktur stratifikasi dan mobilitas sosial.

C.     Pembatasan komunikasi, situasi yang membatasai komunikasi diantara sastra yang beranekaragam itu akan menghalangi pertukaran pengetahuan dan pengalaman diantara mereka. Hal ini akan memperkokoh garis pembatas diantara sastra yang ada sekaligus menghalangi mobilitas sosial, sebaliknya pendidikan dan komunikasi yang bebas diantara stratifikasi sosial yang ada dan merangsang mobilitas sosial sekaligus menerobos rintangan kelas.

 

 

 

  1. Permasalahan Sosial adalah : Analisis tentang berbagai macam gejala didalam kehidupan masayarakat yaitu nilai sosial dan moral.

Permasalahan Sosial ini dapat di bagi empat faktor yaitu :

a.       Permasalahan ekonomi, seperti kemiskinan, gelandangan, pengemis, dan pengangguran.

b.      Permasalahan biologis, seperti penyakit muntaber, busung lapar, tifus, dan disentri.

c.       Permasalahan psikologis, seperti penyakit saraf (neorosis), penyakit jiwa, dan bunuh diri.

d.      Permasalahan kebudayaan, seperti kawin-cerai, kenakalan remaja, konflik sosial, konflik keagamaan dan kejahatan.

  1. Jaringan Sosial adalah : Suatu hubungan yang dibuat dalam bentuk interaksi antar sesama masyarakat dalam sebuah forum yang membentruk pola tingkah laku.
  2. Identitas Sosial adalah : Gambaran yang menunjukkan jati diri sekelompok masyarakat yang terstruktur pada suatu tempat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Silaen, Victor. Gerakan Sosial Baru

Zubir, Zaiyardam. 2002. Radikalisme Kaum Pinggiran

Waridah, Siti. 2000. Sosiologi. Jakarta : Bumi Aksara

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Pt. Raja Grafindo Persada




[1].  Perubahan Sosial menurut J.l.Gillin-J.F Gillin.

[2] . Perubahan Sosial menurut William F.Ogburn.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Halo dunia!

Februari 21, 2008 at 3:29 am (Tak Berkategori)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink 1 Komentar